Sunday, October 19, 2014

Kisah Bisnisku yang Belum Berhasil (II)

Sebelumnya di Kisah Bisnisku yang Belum Berhasil (I): Saya bersama empat teman bergabung untuk mendapatkan dana melalui PMW (Program Mahasiswa Wirausaha), Menghabiskan separo dana untuk menyewa toko yang terlalu besar dan terkesan mubazir, melakukan perjalanan, dsb.

Ternyata bisnis in the 1st time memang sulit, apalagi nol pengalaman. Ada sebuah hukum berbisnis yang menyatakan untuk pemula, kerjakan dulu sendiri. Berkelompok sering membawa petaka. Beruntung ini dana hibah universitas, salah satu kawan, join bisnis dengan hutang ke Bank hampir 200 jt, akhirnya karena salah partner berdua di kelabui dan uang mereka di bawa lari. Siapa yang nyicil? yang ditinggal, malah ibunya yang keteteran.


Bulan Februari 2014, dana kedua keluar sebesar 16 Juta Rupiah. Karena membuat aksesoris yang super duper kecil-kecil itu tak membuat toko cepat terisi, teman-teman berubah haluan, rapat digelar, kita perlu menyesaki dengan barang-barang nih. Baju, boneka, teman-temannya aksesoris kita. Boleh,

Salah satu dari kami bersedia belanja ke Jakarta, ada teman dan koneksi. Katanya. Berembug, membeli alat pin dan beberapa untuk isi toko. Dari 16 juta rupiah, membayar hutang material untuk dekorasi toko, membeli alat pin, isi (baju, boneka, jam tangan dll) menghabiskan hampir 10 juta Rupiah.

Hari keberangkatan 2 teman kami ke jakarta. Saya bertugas jaga toko saat itu, sementara berempat mereka sambil mengantarkan ke bandara mereka masih alot rapat dsb. Mereka terbang jam 2 siang. Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi antara mereka. Sekitar pukul 3 atau setengah 4 dua teman saya yang lain datang ke toko, wajah mereka lesu, marah, emosi, campur aduk.

Ceritanya, mereka berdua (yang terbang ke Jakarta) kurang sangu. Mereka minta bagian, sisa uang dibagi saja berlima. (what????). Karena ngotot, ketua tim kami yang awal (bukan ketua kelompok) mengalah, apalagi mereka sudah mau terbang, tapi... salah satu dari mereka bertanya, nanti uang kalian mau buat apa, laporan dan tetek bengeknya. Tentu saja yang kawan berdua ini marah,

Mereka minta bagian cuma untuk diri mereka sendiri, jalan-jalan, kenapa masih ingin tahu uang jatah kami kami gunakan untuk apa dan minta laporan segala? Menggelikan! Ketua tim akhirnya menutup perjanjian, sisa uang di bagi berlima. Dan bisnis ini, selain toko maka tak akan ada lagi koneksi. Ini benar-benar mengerikan. Ini awal ambruknya kelompok ini.

Kepulangan mereka dari Jakarta membawa beberapa barang untuk isi toko, sementara kami masih bertengkar soal jatah waktu masing-masing untuk jaga. Jika yang jaga toko berdua itu, laporan akhir tak pernah beres, bahkan barang mereka termasuk mahal untuk belanja di grosir, ada beberapa yang tak di cantumkan. Dengan laporan kacau balau, barang tak sesuai dengan jumlah uang yang di keluarkan menjadikan kami bertiga disini lebih solid, dan semakin jauhlah kami. Punya kelompok usaha dengan jenis penyulut api itu bahaya. Saya lupa bagaimana emosi-emosi itu, sumbu api dan apinya. Yang jelas suasana kacau dan rumit, dari dua orang yang ke Jakarta itu, yang meminta bagian uang, beride berbagi, memberikan laporan acak-acakan, sementara kalau di ajak menyelesaikan masalah ini bertatap muka tak mau lagi, isi sms nya berupa cacian dan hinaan untuk kami, padahal yang bertiga ini lebih sering diam dan mengalah untuk semua ide mereka. Bahkan salah satu orang tua kami mensupport toko dengan barang-barang lain tanpa sepengetahuan yang berdua itu.

Pernah kami berlima berembug membeli lemari, yang tak pernah di bayar oleh mereka berdua (karena mungkin uang jatahnya habis untuk jalan-jalan ke Jakarta).

Bisnis dengan join bersama teman, sedekat apapun pertemanan kalian. Harus hati-hati dalam memilih. Anyway dengan dana 40 juta jika ingin dibagi dari awal, saya yakin kemungkinan bakal ada yang struggle dibandingkan siapa menunggu siapa bersama kelompok. Kadang ada yang sangat egoistik untuk membawa kelompok sesuai keinginan mereka. This is very bad. Pilih teman, langkah pertama, adalah penting untuk dilihat.

Uang sendiri, bisa merusak persahabatan.
Bisnis kami kolaps dalam 1 tahun setelah tutup toko. terlebih 3 orang di antara kami lulus kuliah dan sibuk dengan tugas akhir masing-masing. Bisnis ini menguras semua modal kami, tenaga, materi dan emosi.

Silahkan belajar dari kisah ini. 

No comments:

Post a Comment