Monday, September 26, 2016

Katanya ‘Qadarullah’

Oleh: Umi
26 September 2016

Mereka adalah penyejuk mata saya. Demikian saya mengamati dan mengikuti kembang dan tumbuhnya.
Jika Ummu Sulaim berkata pada suaminya tentang jika mendapat titipan dari suatu kaum dan kaum itu mengambilnya kembali, apakah kita harus menolaknya? Tentu tidak, jawab suaminya. Dan itu pula jika yang menitipi kita adalah Allah.

Ah, sebenarnya ini tentang hujam semalam. Hujan es serupa butiran-butiran palet natrium hidroksida murni. Jika tak mau membayangkan jauh-jauh maka garam kasar aka uyah krosok lah yang cocok mewakili ..... jutaan jumlahnya. Dikirim dari langit menuju bumi. Suaranya kelotak bergemuruh saat mengenai genteng. 

Resultado de imagem para granizo chuva belo horizonte 25 setembro 2016
Penampakan Es setelah hujan
Sumber: globo
 ... Merusak penyejuk mata saya. Mereka serupa jutaan peluru yang ditembakkan dari langit, menembus apapun yang lemah. Daun-daun jatuh terkulai, menjauh dari pohon dibawa air deras mengalir serupa bandang. Dedaunan pohon di depan rumah ibu mertua, daun-daun pohon belimbing belakang rumah. Seperti takdir yang kejam, mengakhiri produktivitas penghasil oksigen. 

Hujan 40 menit tadi malam, sudah mengakibatkan banjir di beberapa daerah di kota kami. Menghanyutkan mobil bahkan bus. :( Saat itu kami sedang di rumah mertua. Seorang ipar ba'da mengadakan pesta ultah untuk anaknya yang berusia empat tahun. Ketika tamu terakhir melewati pintu keluar, angin bergemuruh dan kelontang es menyusul sebentar kemudian. Petir, angin, kilat susul menyusul. Alat elektronik dimatikan dan ndilalah hp ngedrop, jadi tidak ada foto sendiri. Hanya menikmati di bawah atap transparan saat es berkumpul mencari jalan tuk turun.

Resultado de imagem para granizo chuva belo horizonte 25 setembro 2016
Saat pagi, esnya berkumpul di muara
Sumber: Globo
Saat pulang, hmm ... membuka jendela adalah hal pertama sebelum gosok gigi. Seperti juga setiap pagi ... menikmati mulainya hari dan melihat perkembangan mereka -tanaman2 saya, penyejuk mata saya- pagi ini kondisinya hancur. Pucuk-pucuk pare lenyap dan kehilangan daun. Tanaman melon muda lenyap tak berbekas, seperti seseorang datang memangkas. Daun kacang panjang tak kalah mengenaskan. Ah, kuatlah. Sementara daun belimbing, memenuhi halaman belakang. Daun-daun tua dan muda, hijau tua dan hijau muda. Hmmm ... seperti rontok hati.

Resultado de imagem para granizo chuva belo horizonte 25 setembro 2016
Butiran-butiran es
Sumber: em.com.br
Ketika saya melaporkan ini pada misua, beliau hanya bilang ...  

“Itu qadarullah, Umi.”

Dan Allah meminjami dan mengambil kembali. Mungkin tanaman-tanaman saya yang tegar akan segera bertunas kembali (kecuali melon :( ) Dan halaman belakang akan menjadi penyejuk mata saya. 

No comments:

Post a Comment