Saturday, December 13, 2014

Menunggu

Aku menunggumu, di simpang empat bercat merah. 
Verao katamu, ketika waktu dipercepat satu jam, 
Harusnya kau sudah muncul, memacu amplitude denyut jantung, 
Rindu kamu, 
Sehari tak bertemu.

Aku masih menunggumu, Imamku.
Di simpang empat empat bercat merah yang sama, 
Yang kini berubah kelabu, abu-abu.
Matahari t'lah lama pergi, 
Langit bening malam ini, menceritakan sepiku,
Sujud magribku sendiri, 
Menengok simpang empat kelabu
Aku masih menunggumu, melantunkan iqamah untuk shaf terakhir hari ini


Bh, 11.12.14

Besi

Kita pernah berasal dari tanah yang sama, 
Melintasi mesin-mesin besar itu,
Melibas hingga layu,
Kita pernah berbagi kisah yang sama,
Tentang rumput-rumput basah
Hingga aliran air saat hujan datang
Kita pernah sama bergandengan,
menghadang
Menghindar pisah jurang,
Yang makin mengangkang
Kita pernah sama-sama tergugu
Melewati sebaris jalan tak jelas,
dengan suara bertalu-talu,
dan angin membuat kebas
Lalu kita terpisah kawan,
entah siapa tangan-tangan itu,
sungguh kita menangis hingga batas pandang mata ini
Buatku pilu,
terharu,
sekarang kita disini
menikmati pagi
mentari mencipta pucuk di kaca-kaca tinggi
pun hawa secangkir kopi,
dihirup seorang bertopi mungil, dan kita ikut menikmati
senyumnya,
Selamat tinggal, ucapmu bungah,
senyum kita merekah
Kita akan bertemu di atas sana,
Kau lambai tangan saat rantai-rantai besi mengikatmu
Jikapun suatu hari kita mungkin terpisah lagi,
Biarlah bahagia mengudara
Karena kita menyangga bangunan yang sama.
‪#‎curhat‬ bijih besi
BH 13.12.14

Tuesday, December 9, 2014

Jodohku dari Reruntuhan WTC

Dialah malam,
Menggambar sanubari kian kelam,
Mengais
Mengukir,
Diam
Blarrrrrrr, 3000 nyawa melayang.
Tv-TV kegatelan. Islam is the real terorist
Kata TV e Jornal siang malam.

Wah apa itu? Jeritmu bimbang,, kali-pertama muncul curiousmu nan serius.
Lalu muncul tulisan-tulisan bersambung sama yang dulu jadi hadiah ultahmu ke delapan.
Kau merangsek. Dengan bus jelek kau cari tumpangan, jauuuuuhhh dri lahirmu.
Kau harus tahu.
Orang-orang lebanon itu yang membimbingmu, menyelami dunia janggut panjang dan baju putih kedodoran. Islam is peace. Dan setan-setan rupa jin dan manusia gostas muitas tebar fitnah. Mereka kayu bakar jahannam!!!
Lalu kau pun kembali jadi bayi. Belajar kata A Ba Ta Tsa lagi dari dini,,, Menuntunmu pergi. Menyeberangi atlantik biru yang ingin menelanmu. Menggapai mimpi di negeri penuh berlian 100 tahun lalu. Lalu kau kesana. Merasakan tanah yang sama dengan pembawa pesan ini. Menggenapi rasa penasaranmu akan dahaga pada tiap-tiap tahun berlalu.

Lalu entah berapa ribu hari kemudian, kau mengikrar janji untukku. Gadis di balik bumi kelahiranmu.

BH, 9.12.2014

Berhenti

Duniaku pernah terhenti di 14 tahun, kala itu rasanya... 
seperti angin selalu berhembus sepoi setiap hari,
seperti awan berarak selalu melindungiku kala pp sekolah, 
seperti bunga-bunga rumput selalu mekar sepanjang jalan pulang 
ada payung biru yang menemaniku kala hujan atau panas, dia selalu ´nyempil´di tepian tasku... 
ada pengajian remaja setiap malam jumát, di masjid.... 
Ada aspal hitam yang menemani setiap tatap dan pandang mata ini, 

Ufff, kini aku melampauinya sudah, menyesak dada

My Mom Ibu

Biarlah aku mengenangmu di jalan ini, 
kau yang meninabobokan kami dengan hafalan do'a do'a, 
mengantarkan kami dalam mimpi dengan rangkaian shalawat nabi. 
Mengajari kami A Ba Ta Tsa dalam terang lampu minyak, 
menghidupkan pengajian ibu-ibu hingga satu desa bergabung jadi satu,
sampai luber rumah-rumah kecil kita.

Ibu, tak mampu kutorehkan kata manis untukmu, 
pun juga puja-puji untuk bakti. 
Biarlah daun-daun di hutan sekitar rumah kita jadi saksi. Tentangmu, 
biarlah tanah dan batu di halaman kita kelak bicara, tentang abdimu. 
Biarlah angin yang pernah menerpamu sebarkan semangatmu pada dunia, untuk setiap bagian bumi yang mereka lewati. 
Biarlah setiap sudut reot rumah kita yang kelak bicara. 

Aku pernah, mencuri batu yang tutupi pusaramu, 
berkisah tentang mentari, bulan, dan bintang gemintang yang tak sama setiap hari. 
Do'aku satu, 
Ibu semoga Yang Kuasa menerimamu. 

(disebuah simpang 3, Rua americo werneck, kholaqoh dulu yukkk) :)


Tak perlulah tunggu malam datang. :)
Ikut kelas puisi KBM pertama kali, lagi jalan ke mesjid,,, 2 jam baru nyampe. hihihihihihi. Ndak apa lah yaa, 

Paham

Ku gumankan paham, tentang siang,
hijau helai daun di halaman, 
merah darah, pun kemericik air membuncah
jalan ini terang benar, batu dan rumput kelihatan. Sejuk angin beriring dari lautan. 

Ku teliti paham tentang malam,
berjalan takut jatuh, diam ditempat takut terbunuh.
Waktu tak tetap, ada bintang bergerak perlahan.
Senyap mendera, kerisik daun menambah mistik. Suara binatang melepas adrenalin. Tubuh ciut, mengeriput. Angin berhembus menambah dingin, suaranya mencipta gigil. Terjaga ngeri, tidur takut tak bangun.

BH 08.12.2014

Depois (Puisi)

Depois, 
Kata malam yang aku tak paham 
Espero me para sempre, Umi 
Geleng kepala kuat jadi jawaban. 

Detak detik bimbang
menguar
meliar
Pulang

Diam kamu, sentakku.
bahasa alienmu sungguh tak tahu malu.
jika kau ingin ungkap romantis, ku tak gubris
Jika ungkap dendam, ku tak paham

Eu te amarei para sempre. Desakmu sendu
mengirim wangi bunga malam ke pengasingan..

Apa tadi katamu? Teriakku ragu,
malam telah hilang.


Oleh: Umi Ayyash

Sebelum Mati (Puisi)

Duh 
Aduh
Pengasuh

Lusuh bersimpuh
Panas berpeluh
Duh
Pengasuh

Engkau apa?
Mati rasa.
Kemana saja.

Jangan
Pintaku kelu,
Jangan pergi
aku ingin Kembali
Sebelum kau kunci mati
dan aku jadi buta bisu tuli.

:'(

Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 16:108)
Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi):”Apakah yang dikatakannya tadi” Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. (QS. 47:16)
Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (QS. 63:3)

Wednesday, November 26, 2014

Berkaca pada Kata Kita

Aku benar-benar marah. Jika bukan Tati yang bikin ulah, mungkin aku tak terbakar begini. Tapi ini dia, sudah mematahkan pensil kesayanganku bukannya minta maaf malah mengejekku.
´´Alahhh,,, cuma satu pensil aja kok, besok kubelikan lima puluh´´ Serunya dari seberang meja. ´´Berapa sih harga satu pensil?´´ Ucapnya nyinyir. Pengen kulempar pakai buku. Ini bukan soal harga, ini tentang nilai. Pensil ini pemberian kakakku satu-satunya sebelum beliau menghilang di telan tangkuban perahu dua bulan yang lalu, dan sampai kini belum ketahuan kabarnya.
Aku mendidih, menggerutukkan gigi. Mencoba diam, menenangkan diri. Tak ingin reputasiku sebagai murid teladan lebur dengan meladeninya. Mata ini hampir jebol mengingat tanda kasih kakakku sudah hancur menjadi tiga.
´´Kalau Ibumu tak mampu belikan lagi itu pensil ....´´
´´Dasar setan belagu!!´´ Semburku berapi. Memotong kalimatnya barusan, membuatnya melongo. Mungkin tak menyangka kalimat ini bakal keluar dari bibirku.
´´Apa? setan?´´ Ulangnya tak percaya. Dia berjalan melintasi meja di antara kami, mendekatiku.
´´Bagus. Kamu tahu? hanya setan juga yang bisa melihat setan lainnya!´´ Ucapnya tajam. Setajam matanya yang menhunjam dada.
Sekarang bukan hanya aku, tapi seisi ruangan ini terpana.


Pelajaran moral : ....... (silahkan isi) 

Pengalaman Pahit

Oleh: Umi Ayyash
Sudah seminggu lebih badanku panas tinggi. Temperatur tubuhku melambung bagaikan grafik sinus 360°, melambai turun naik seperti maraton di bukit barisan. Istriku yang mencintaiku setengah mati, apalagi kami sudah bersama empat tahun dan tak ada tanda-tanda kemunculan pewaris DNA. Tentu saja dia khawatir dengan kondisiku. Awalnya dikira demam biasa, minum oralit yang dia aduk-aduk sendiri pun jadi. Eh,
Ternyata demamnya tak turun-turun, setelah seminggu aku terkapar di tempat tidur dan kemul, dia dengan penuh cinta meminta tetanggaku mengantar ke puskesmas. Dengan motor. Badanku biru-biru begitu sampai, bukan apa-apa, kata bidan hanya malaria.
Pulang kerumah, istriku tak ada. Dia ngungsi ke tetangga, mencari wangsit obat malaria. Setelah kelayapan sampai malam lalu sibuk menemani tungku di dapur, dia datang ke tempat tidur.
´´Makan, Mas´´ Ucapnya, suaranya terdengar nelangsa.
´´Nggak mau, lidahku pahit´´ Jawabku sambil menarik kemul sampai kepala.
´´Kalau gitu minum aja´´.
Ia menarik keluar kepalaku, menyodorkan sebuah gelas yang membuatku curiga. Aku memperhatikan air mukanya, nelangsa. Capek menemaniku seminggu. Tak ada anak cucu kawan bermain pula. Aku harus sembuh, pikirku mensugesti diri. Dengan lambat kuseduh air hangat dalam gelas itu. Seketika otakku mencerna, begitu banyak kepahitan hidup yang telah aku dan kami alami bersama, tapi kenapa yang ini lebih kadarnya daripada yang sudah-sudah?
Mulutku menggembung bagai ikan buntal, mata ini terbelalak kaget. Kukembalikan isi mulutku ke gelas segera. ´´Apa ini, Dek?´´ Teriakku membahana.
Ia tersenyum disana, luwes, ayu, bikin ngilu melihatnya. ´´Itu air rebusan brontowali, Mas. Tadi dikasih tetangga buat ngebunuh malaria, tambah lagi ya?´´ Tanyanya tanpa dosa.

BH, 26112014
Sambil mendengarkan orang-orang ribut nonton final copa Brasil round-2

Saturday, November 22, 2014

Makanan TerEnak Sedunia tuk Suamiku

Janjian same Dokter jam 5.20 ehhhh kebangun tidur Jam 5.40 berabe en bahaye nih.. Habis maraton ke Klinik 10 menit lebih. Nemu suami gue bertengger di pintu klinik,
-Why you late? sentaknya di iringi ngilu-ngilu di kakiku.
-Ketiduran. Maaf. Jawabku. Bukannya tadi udah kukirim pesan via wa, aku baru sampe rumah jam 4 sore pas pulang jum'atan dari masjid. Jalan yang super panas n panjang itu buat ngantuk, sampe rumah setelah cuci kaki dan cuci muka, merebahkan diri di 'istana'ku (membentang selimut di lantai dan whuppsss, serasa lurus lagi tulangku) ngarepnya merem ampe jam 5 biar ke klinik nggak telat, tapi whoooohh, Yang kuasa mengenggamku pas tidur, baru mengembalikan ruhku sangat telat dri harapan. Atau kemungkinan besar beliau tahu sangat aku butuh sekali tidur. 

Saturday, October 11, 2014

Buku Kecil Terkunci (1)

Matanya terang, menyala, ceria. Rambutnya basah, wajahnya segar sekali dan senyum kekanak-kanakanya muncul. Mengingatkanku tahun-tahun masa kecil kami bermain bersama di teras ini,
- Ndak usah masuk lah Mbak, tadi Ibu sudah pesan biar cepat pulang. Ngantar ke pasar gitu
Aku mengangguk, bude Ti aku memanggilnya, wajah keibuan yang selalu ceria. Bekerja di sawah yang sama setiap hari, beruntung itu adalah sawah milik sendiri, bayangkan jika mereka mengerjakan sawah orang lain, tentu wajahnya kan berbeda. Paruh hasil mengerjakan sawah atau kebun disini 4:1. Menyedihkan memang tapi itulah nyatanya, kadang tak tega aku melihat mereka yang bekerja setiap hari hanya mendapat seserpih di penghujung panen. Padi maupun sayur-mayur. Aku diam ngelantur, ada yang tak beres melihat senyumnya. Terlalu gembira, ada sesuatu yang disembunyikannya.
- Kapan balik ke kota? Tanyaku sekedarnya. Dia kesini sringnya Cuma untuk pamit, lagi.

Tuesday, October 7, 2014

Kebakaran Hutan 2014 - Puisi

Di status fbku di hari yang sama,,,
Telah di lepas waktu
Menangani angin dan air
Angin membawa awan- entah bagaimana mereka bersama matahari mampu jatuhkan hujan
Tapi awan tlah berubah, angin tak lagi membawa awan
Ada yang putih laiknya awan melintas langit
Bukan, awan yang ini bukan uap air
Ia putih membubung kadang jadi gelap laiknya mendung
Ia tak lagi awan
Ia asap jelmaan kebakaran hutan
Uff,, dimanakah waktu
Kapan lagi kan kau bawa air dan angin
Kami menunggu,

Wednesday, October 1, 2014

Infiltrasi

Seberapa banyak yang kau tahu tentang hati?
Detik-detik saat sakit, dan pengharapan yang berlebih
Saat ada celah untukku pergi mengambil tetesan terakhir dahaga

Aku sudah melawan. membuat dunia menjadi kecil
dan sampah jarak kacau tak berbentuk

Tapi ah,
Seberapa banyak yang kau tahu tentang rindu
Tentang mengharap belas kasih
Ataupun suatu usaha terakhir untuk bertahan
Menikmati rasa sakit itu